Masa Lalu

Sudah satu setengah tahun lamanya, kita memutuskan untuk mematikan komunikasi. Kamu sudah membawa nama besar, dan aku sudah memilih jalanku sendiri, tidak tau apa yang sudah terjadi kepadamu selama satu setengah tahun itu, apakah kamu masih saja menjadi “budak kampus” yang sering ku sebut itu? Ternyata masih sama, kamu sangat focus sekali pada kegiatanmu itu.

Sekarang, namamu sudah besar, seluruh mahasiswi memujamu. Senang bisa melihatmu lagi, berdiri diatas mobil komando menyuarakan aspirasi rakyat sama seperti kamu menyuarakan aspirasimu yang ingin aku memakai kerudung itu. Aku pastikan kamu tidak melihat aku, karna aku berusaha keras untuk menutupi diriku yang kecil ini dengan almameter kuning ku. Aku ingin sekali menyapamu lewat instagram pribadiku atau lewat twitter asliku, tapi aku terlalu takut melakukan itu. Takut kamu membenciku karna ucapanku yang pedas  dan kelakuanku yang katamu kelewatan batas.

Satu setengah tahun aku tidak pernah lupa, bagaimana bisa aku melupakan cerita yang 3 tahun lamanya. Berawal dari aku siswi baru yang telat hari pertama MOS di salah satu SMA di Yogyakarta. Kamu membantuku agar tidak kena sanksi dihari pertama MOS itu, terimaksih untuk itu. Awal semester genap ketika aku masih kelas 10 SMA, kamu mengajakku untuk berpacaran, ya dengan langtang aku bilang iya. Kharismamu yang tidak pernah pudar dari masa itu, hingga sekarang.

Maafkan aku, tidak pernah lagi mendengarkan kata-katamu setelah kita menjalani yang namanya Long Distance Relationship. Aku menjadi perempuan “nakal” bagimu, aku sering berjalan malam dengan teman-temanku, karaoke setiap libur hari minggu, bahkan aku pernah satu kali masuk kedalam club itu. Kamu marah besar, dan waktu itu juga aku menyalahkan kamu karna kamu tidak punya waktu denganku hingga aku melakukan itu semua.

Walaupun aku sudah begitu, kamu tetap disampingku ketika ayahku berpulang. Hari-hariku terasa semakin berat, dibulan pertama kuliah aku sudah kehilangan ayahku. Kehilangan ayahku membuatku sedikit berubah menjadi lebih baik, tidak pernah lagi melakukan aktivitas yang katamu “nakal”, terimakasih sudah menyadarkanku kana hal itu.

Kemudian kita sama-sama memiliki kesibukan, aku sibuk sebagai mahasiswa baru, kamu semakin sibuk sebagai mahasiswa yang penuh organisasi, tapi kita bisa melewati itu. Hari yang ditunggu tiba, hari jadi kita yang ke-3 tahun, sebenarnya sudah lewat seminggu, tapi tak apa asal kamu datang menemuiku ke kota metropolitan ini.

Kita berbicara ringan, tentang kuliah. Sampai akhirnya.
“Aku mau kamu pakai kerudung ini”
“Maksud kamu?”
“Aku ingin kamu menutup aurat, seperti perempuan muslim yang baik pakai kerudung ini”
Aku naik pitam. Aku adalah orang yang keras kepala, dan tidak ingin diatur, apalagi soal berpakaianku “Oh. Jadi menurutmu aku masih perempuan nakal?”
Kamu menenangkan aku “Bukan begitu, akan lebih terjaga kalau kamu memakai ini, karna kau tidak bisa menjagamu setiap saat disini”
“Iya, kamu tidak bisa menjagaku. Karna yang ada difikiranmu adalah kampus dan organisasimu itu”
“Tidak ada hubungannya dengan aktivitasku”
“Terserah kamu. Budak kampus” Kata-kataku ini yang menyakiti hatimu.
“kata-katamu sudah kelewat batas, kelakuanmu sudah tidak bisa ditolerir walau sudah berubah. Kamu sangat berubah. Aku sudah berusaha memperbaiki hubungan ini, tapi kamu seperti ini keras kepala dan egois” katamu panjang
Aku terdiam. Sebegitu jahat kah aku selama ini?
“Aku tidak bisa bersamamu lagi. Bukan ingin melepaskanmu, tapi kamu yang ingin lepas dan bebas dariku. Selamat hari jadian yang ke-3 tahun, ini hadiah untukmu.” Kamu menyodorkan kerudung abu itu.

Aku menangis. Tersedu. Sakit. Tidak ada lagi tumpuanku. Marah. Memutuskan segala komunikasi denganmu. Aku menjauhimu, tidak membalas email yang masuk darimu. Aku tau kamu menanyakan keadaanku dengan temanku, sampai aku harus meminta teman lelakiku berpura-pura sebagai pacarku agar kamu tidak menanyaiku lagi.

Berhasil. Kamu tidak pernah muncul lagi. Maafkan aku melakukan itu, karna aku ingin kamu tidak merasa terbebani dengan memikirkan aku. Terimakasih untuk kerudung abu itu, sekarang sudah ku pakai bahkan aku sudah banyak memiliki kerudung itu tidak hanya warna abu saja. Maaf tidak berani menghubungimu lagi, walau sebenarnya aku rindu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasangan Sempurna

Spasi hati