Menemukanmu dalam Secangkir Cinta
Jam 22.00 WIB aku masih berkutat didepan laptop silver kesayanganku. Ditemani segelas caffe latte yang entah sudah gelas keberapa ku pesan. Menyelesaikan tugas yang sebenarnya masih ada satu minggu lagi untuk dikumpulkandan aku mengerjakannya sekarang. Aku memang orang yang sangat anti dengan deadline, makanya ku kerjakan sekarang supaya cepat santai dan membaca tumpukan novel yang baru ku beli dan beberapa gelas caffe latte yang ku sukai.
“Kringg” Lonceng yang berada dipintu cafe ini berbunyi.
Aku mendengus, pasti setelah ini akan ada beberapa orang atau bahkan rombongan yang langsung memenuhi cafe ini. Yang pasti akan mengganggu ketenanganku. Menyebalkan.
Satu menit
Dua menit
Sampai 10 menit. Aku penasaran. Kenapa sepi? Apakah tadi yang masuk perempuan? Yang baru saja galau dan menangis hingga menghabiskan beberapa botol bir, seperti yang kulihat di drama korea yang sering ku tonton dulu.
Ku tolehkan kepalaku pada orang yang baru saja masuk tadi. Laki-laki berjaket hitam dengan memegang sebuah buku, sepertinya itu novel dan tidak lupa kopi hitam pekat yang baru saja diantar oleh pelayan cafe. Sombong sekali minta diantarkan dengusku. Oh, jangan lupa dengan headset putih yang dipakainya.
Aku tidak memerdulikan laki-laki itu karna dia membelakangiku. Tapi, dari belakang sepertinya tampan. Ah, insting perempuan, dari belakang saja bisa tahu. Hebat kan? Makanya jangan berani-berani bermain dibelakangnya. Percuma. Kamu ketahuan nantinya.
Sudah hampir jam 23.00 aku memutuskan untuk pulang dari cafe itu.
Keesokan harinya aku kembali ke cafe itu. Sebenarnya tugasku sudah selesai. Namun aku harus kembali. Karna novelku tertinggal disana.
“Mba, kemaren ada liat novel saya ketinggalan gak? Dimeja itu?” tunjukku pada meja favoritku di cafe ini.
“Wah, saya gak liat mba” kata pelayan itu.
Hampir saja aku marah dengan pelayan itu. Masa iya, dia tidak tau, padahal kan dia yang sering liat barang pelanggan tertinggal karna posisinya sebagai kasir dan melihat semua aktivitas pelanggan.
“Yaudah mba. Makasih. Caffe latte satu” ucapku ketus
“hah? Mbak pesan apa?” tanyanya. Astaga. Apakah aku tadi kurang keras.
“Caffe latte satu namanya Gaia jangan pake Y tapi pake I“ ucapku sedikit keras. Masa bodo dengan pengunjung cafe yang lain. Yang pasti aku kesal karna yang hilang itu adalah novel favoritku.
Aku langsung duduk dibangku ujung favoritku.
“Gaia Baverli Aphroditia” ucap seseorang disampingku.
Aku kaget. Spontan menoleh pada laki-laki itu. Ya Tuhan. Tampan sekali. Badan tinggi tegap. Tidak gemuk dan tidak kurus, sedang.
Aku masih terdiam karna kaget dengan laki-laki tampan yang menyapaku ini. Dia mengambil kursi tepat didepanku. Dengan memegang novel favoritku. Dari mana dia mendapatkannya? Ah benar. Dia laki-laki berjaket hitam dengan headset dan menyukai kopi hitam. Bagaimana aku tau dia menyukai kopi hitam? Yup, karna tangan kanannya memegang gelas berisi kopi hitam dan tangan kirinya memegang novelku.
“Siapa yang suruh kamu duduk disitu?” tanyaku setelah tersadar dari lamunanku yang memuja ketampanannya.
“Loh? Emang gak boleh?”
“Iyalah”
“Emang ada larangan?”
“Nanti aku suruh pemiliknya buat nulis larangan disitu”
“Nanti juga”
“Kamu siapa sih” ucapku kesal. Karna dia sudah memancing emosiku.
“Kalo gue orang yang lo suruh buat nulis larangan dibangku ini. Lo percaya gak?”
Maksudnya? Astaga. Apa dia pemilik cafe ini?
“Kamu pemiliknya?”
“Oh iya, lupa. Kenalin, gue Ares Muhammad Aezar. Pemilik cafe favorit lo ini, wahai Nona Gaia Aphroditia Aezar” ucapnya secara jelas dan lantang. Apalagi diakhir katanya, dia menyebutkan ujung namaku sama dengan ujung namanya?
“Hah?”
“Kenapa gak suka ending yang bahagia sih?” tanyanya sambil menyilangkan kakinya dan menyeruput kopi hitamnya. Dan tidak ketinggalan bekas noda hitam di kumisnya. Hahaha astaga. Apakah dia ini bisa minum dengan gaya tampan seperti wajahnya?
“Kok kamu tau sih?” tanyaku antusias
“Disini” ucapnya sambil memamerkan novelku, kemudian ditaruhnya didekat tanganku.
Baru aku ingin menanyakan kenapa novelku bisa ada ditangannya.
“Lo ninggalin novel ini dibawah meja. Karna gue penasaran, yaudah gue ambil dan gue baca”
“Maling” ucapku pelan
“Hah? Apa”
“gak. Gapapa”
“Gue bukan maling. Salah lo lah kenapa ninggalin novel sembarangan”
“Aku gak ninggalin. Cuma ketinggalan karna jatuh”
“Lo gak mungkin ketinggalan novel ini kalo lo merhatiin dia dan anggap dia berharga”
“Gak nyambung”
“loh? Coba deh lo pikir. Kalo lo ingat sama ini novel dan gak terlalu sibuk sama laptop silver lo waktu itu, gak mungkin dia kesenggol dan jatoh.”
“kamu banyak omong ya”
“Cuma menikmati waktu sama Aphrodite nya Ares aja, biar lama”
Dia ini siapa sih. Sok kenal. Aku langsung mengambil novelku dan ingin beranjak pergi.
Tapi, dia menahanku.
“Nanti dulu”
“Apa lagi sih”
“Lo belum jelasin kenapa endingnya lo rubah”
“Kamu udah baca sampai akhir?” tanyaku tidak percaya. Bagaimana bisa dia menghabiskan 400 halaman dalam satu malam. Apakah dia tidak tidur? Kalau perempuan ya aku maklum saja. Ini, dia laki-laki. Biasanya kan laki-laki lebih suka main bola atau main game ketimbang baca novel.
“Udah. Sampai catatan lo yang mengubah alur ceritanya jadi sad ending”
“Aku gak suka. Novel itu dipaksa jadi happy”
“Bukankah semua ingin happy ending?”
“Aku gak”
“Kenapa?”
“Karna gak semua cerita itu happy ending”
“dan gak semua cerita itu sad ending”
“Gimana kalo gantung?”
“Berarti belum berakhir”
“Kamu banyak omong”
“Pulang. Istirahat. Karna mulai besok banyak kejutan yang menunggu”
Dan benar saja, dari percakapan singkat itu, dia benar-benar mengganggu hidupku dengan kejutannya.
Seminggu setelah percakapan singkat dengan pemilik cafe favoritku itu, dia menghilang.
Tidak ada kabar.
Tidak lagi menemuiku di meja favoritku, ataupun tiba didepan pintu kos ku.
Terakhir waktu itu, dia menungguku didepan pagar kos, sambil membawa boneka hellokitty besar, bunga, dan kantongan yang berlogo huruf G yang aku yakini isinya novel.
“Kok pagi sekali?”
“Mau ngasih ini”
“Kenapa gak nanti aja? Aku nanti ke cafe”
“Takut gak sempat”
“Loh? Kamu mau kemana?”
“Berjuang. Untuk melamarmu”
Aku tertegun. Tidak tau harus berkata apa. Harus berekasi seperti apa. Intinya aku kaget.
Cup
Asataga. Dia mengecup keningku. Mengusap kepalaku.
Entahlah bagaimana merahnya mukaku. Seperti kepiting rebus? Atau tomat rebus?
Sudah. Jangan bahas cerita indah itu. Intinya, sekarang dia meninggalkanku. Iya. Sendiri. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa jujur mengenai perasaannya.
Tidak ada yang berubah. Aku masih saja Gaia yang ceria dikampus. Ya, hanya dikampus. Aku menjadi Aphroditia saat di cafe atau ditempat asing lainnya. Itu karna aku tidak mudah bersosialisasi dengan orang baru.
Sebenarnya nama panggilanku adalah Aphroditia, tapi setelah ayah meninggal. Aku menghilangkan nama panggilan itu, karna menjadi Aphroditia adalah sunyi. Aphroditia yang malang.
Aku mengubahnya menjadi Gaia, dan mulai sejak itu aku berubah menjadi Gaia si ceria. Sampai guruku pernah bilang
“Gaia, kamu jangan senyum”
“Loh? Kenapa bu?”
“Nanti banyak yang tertarik”
Iya. Aku Gaia yang ceria, dan berteman dengan banyak orang. Berbeda dengan Aphroditia, yang pendiam. Aku seperti mempunyai kepribadian ganda ya? Iya. Hal itu terjadi sejak ayahku meninggal. Aku bisa menjadi Gaia atau Aphroditia. Namun, sejak masuk SMA aku tidak pernah lagi menjadi Aphroditia, sunyi rasanya.
Aku sudah menjadi sarjana Psikologi. Dan ibuku bilang kalau aku setidaknya kembali ke kalimantan, barang sebentar saja. Aku sudah lama tidak kembali kesana, hanya ibuku yang sering bolak balik kesini, Bandung. Bukan aku sombong dengan pulau kelahiranku, tapi aku tidak ingin menjadi Aphroditia jika kesana.
Aku bukan dari keluarga kaya sehingga menyuruh ibuku sering bolak balik Kalimantan-Bandung, namun hidupku berkecukupan untuk memenuhi semua keinginanku termasuk biaya keberangkatan ibuku untuk menjengukku. Di Bandung aku mempunyai kaka perempuan, dia sering mengajakku untuk tinggal bersamanya, namun aku memilih kos karna aku ingin mandiri.
Hari ini, aku memutuskan untuk datang ke cafe itu, mungkin untuk terakhir kali. Karna aku sudah memiliki pekerjaan di Kaliamantan sana dan melanjutkan Profesi Psikolog ku disana.
Ku letakkan novel yang 3 tahun lalu diberinya waktu didepan kos ku di tumpukan novel yang ada di cafe itu.
Jangan kira aku tidak mencarinya. Aku sudah mencarinya. Namun nihil. Pegawainya tidak ada yang tau dia dimana. Keluarganya? Aku tidak mengenalnya. Nomer telpon? Ah yang benar saja, aku tidak sempat meminta nomernya.
Dia hilang.
Itu yang bisa kusimpulkan.
Aku keluar dari cafe itu, berjalan sambil menyebrang, karna halte ada diseberang cafe ini.
Drttt drttt
Nomor yang tak dikenal.
Baru saja aku ingin menekan tombol hijau. Tiba-tiba sebuah sorot lampu mengarah padaku.
Dan brukk
Semua badanku sakit. Darah mengalih dari kepalaku. Pandanganku gelap.
1 tahun setelahnya
Aku duduk ditepi ranjang. Memegang tongkat yang sudah 1 tahun ini menemaniku. Aku batal bekerja sebagai asisten psikolog. Aku batal melanjutkan studiku sebagai seorang Psikolog. Semuanya hancur. Karna satu malam itu. Malam yang sangat ku benci. Malam yang membuat mataku tidak berfungsi. Harusnya aku tidak perlu kembali ke cafe sialan itu. Harusnya aku tidak boleh berharap dia mentangi ku ke cafe itu.
Bodoh.
Gaia. Kamu bodoh.
“Aphroditia”
Itu bundaku.
“Iya bunda?”
“Mari sarapan”
Aku tersenyum. Aku tidak boleh sedih didepan bunda.
Setelah kejadian itu. Aku memutuskan untuk mengubur kota Bandung dan kenangannya. Dan kembali ke Kalimantan. Kakaku sempat menahanku dan memaksaku untuk melakukan pengobatan yang terbaik bersamanya disana karna dia seorang dokter.
Aku menolaknya.
Biarkan aku buta seperti ini.
“Ayolah de. Tetap disini, dan berobat”
“Tidak ka”
“Apa kamu tidak ingin membaca novel lagi?”
“.....”
“Apa kamu tidak ingin melihat mawar putih lagi?”
“....”
“apa kamu tidak ingin bekerja? Melanjutkan studimu? Dan hidup bahagia?!”
Ucap kakaku dengan sedikit bentakan.
“Ka! Biarkan aku seperti ini. Aku tidak ingin membaca novel yang akhirnya selalu happy ending! Aku tidak ingin! Tidak ingin ka! Untuk bahagia pun sepertinya aku tidak mung-“
“Aphroditia!” bundaku langsung memelukku yang sudah berlinangan air mata.
Tuhan. Aku sudah kehilangan ayahku. Ares. Dan sekarang mataku.
Aku tidak bisa lagi melihat fotoku dan Ares yang menjadi wallpaper favoritku.
“Kita pulang ke Kalimantan ya sayang” ajak bundaku.
Tanpa pikir panjang. Aku mengangguk.
Itulah. Kenapa aku berada di pulau kalimantan ini. Pulau masa kecilku.
4 tahun sudah aku tidak menerima kabar apapun dari Ares. Bodoh. Mana mungkin Akpol yang menjadi lulusan terbaik mencarimu, Gaia. Tidak mungkin.
Aku tau Ares menjadi Akpol ketika mendengar namanya di berita. Ternyata dia berjuang menjadi Akpol. Jangan lupakan dua kata terakhirnya untuk melamarmu anggap saja itu sebagai penenang saja dan tidak ada nyatanya.
“Bunda, aku mau ke cafe”
Bundaku memiliki cafe yang ada didepan rumah kami, alasannya supaya aku tidak perlu berjalan jauh untuk ke cafe.
“Hati-hati” teriak bundaku dari dapur.
Aku duduk dibangku favoritku, dekat jendela. Malmun. Mencari tahu bagaimana Ares sekarang ini.
Ayolah, Gaia. Ares tidak mungkin mencarimu. Kamu buta. Mana mungkin dia ingin melamar orang buta sepertimu. Banyak dokter muda dan cantik yang menunggunya diluar sana.
Sebegitu berartinya kah Ares dalam hidupku? Dalam waktu seminggu dia sudah membuatku begini. 4 tahun. Itu tidak sebentar. Apalagi keadaanku yang seperti ini.
“Aphroditia”
Aku terkejut, sampai menjatuhkan tongkatku yang kutaruh di bangku sebelah.
Ares Point of View
Setelah semuanya selesai. Aku memutuskan untuk mencari perempuanku yang 4 tahun sudah ku tinggal. Sebenarnya tahun lalu aku sempat menelponnya dan ingin memberinya kabar. Namun tiba-tiba telponnya terputus dan ku coba menelpon kembali, nomornya sudah tidak aktif lagi.
Aku mencarinya. Sampailah aku di Kalimantan. Aku langsung menuju ke rumahnya yang alamatnya diberikan kakanya.
Ya Tuhan. Betapa senangnya aku melihat perempuanku duduk diujung sana. Ku dekati dia.
“Aphroditia”
Dia terkejut. Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari tempat duduk yang ada disampingnya.
Tongkat orang buta?
Dia meraba-raba mencari tongkat itu.
Ya Tuhan. Dia buta? Kenapa?
“Kamu siapa?” tanyanya takut
“Aku.. A-Ares” ucapku terbata-bata
Dia langsung pucat. Tangannya mengepal.
“pergi”
“Aku kembali”
Dia bersiap-siap untuk pergi dengan tongkatnya. Ku tahan tangannya.
“APALAGI!” Teriaknya
“Aku kembali” ucapku sekali lagi
“Untuk apa? Untuk melihatku buta? Untuk menertawakanku? Untuk apa Ares?” ia berteriak sambil terisak.
“Aku minta maaf” hanya itu yang bisa ku ucapkan
“Sudah ku maafkan” ucapnya.
“Aku mencintaimu Aphrotia”
“Aku tidak”
Ia pergi. Aku tidak mampu menahannya.
Apa ini karna tabrakan yang diucapkan kakanya? Berarti salahku? Aku yang menelponnya pada saat dia menyebrang?
Gaia Point of View
Untuk apa? Untuk apa Ares kemari? Aku malu karna keadaan ku sekarang. Aku marah karna ia tidak menghubungiku. Aku sedih karna aku tidak bisa melihatnya menggunakan baju dinas kebanggaannya.
Aku minta maaf Ares. Aku bohong. Aku mencintaimu Ares, sangat mencintaimu. Tapi aku sadar, aku buta. Aku tidak mungkin bersanding denganmu.
“Aphoroditia”
“Iya bunda?”
“Ada yang menemuimu”
Aku keluar kamar, dan duduk dikursi tamu. Tidak ada pembicaraan. Aku tau, itu pasti Ares.
“Aphroditia” panggilnya.
Aku diam.
“Aku ingin melamarmu”
Aku kaget.
“Bagaimana bisa? Aku tidak mencintaimu Ares” ucapku bohong
“Aku tidak percaya. Semuanya sudah kamu tuliskan disini”
Aku yakin dia sedang memegang novel yang diberinya dulu.
“Bagaimana Ares? Aku buta. Bagaimana nanti? Kamu akan sibuk mengurusku yang tidak bisa apa-apa ini. Bukan aku yang akan mengurusmu. Aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu, Ares” ucapku terisak.
“Aphroditia” tegurnya
“Ares. Aku tidak mungkin berjalan menuju pelaminan bersamamu saat upacara pedang pora. Kita tidak bisa melihat pedang pora bersama, Ares!”
“Maka dari itu, kembali ke Bandung. Dan berobat. Kamu masih bisa sembuh. Dan kita akan hidup bersama”
“....”
“Kumohon, Aphroditia. Didepan bundamu dan orangtuaku, aku ingin melamarmu menjadi tunanganku”
“Apa?”
Ares bersama orangtuanya?
“Iya sayang. Kami ingin kalian bertunangan dulu. Sampai Ares bisa benar-benar menikahimu”
Setelah kejadian Ares ke Kalimantan membawa orangtuanya. Aku memutuskan untuk melakukan pengobatan sesuai dengan permintaan keluargaku dan Ares. Sekarang kebahagiaan ku lengkap. Aku sudah bisa melihat lagi.
Ares? Kami akan segera melakukan pernikahan.
“Kamu boleh untuk istirahat atau menenangkan diri dulu terhadap cinta, tapi kamu tidak bisa berhenti darinya. Kamu bisa bersembunyi, tapi kamu tidak bisa menghilang darinya.”
“ Dimanapun kamu berada, bagaimanapun kamu menolaknya, cinta akan tetap disitu, mengakui keberadaannya”- Remember When
Komentar
Posting Komentar