I'll be Fine With You - 1

I'll be Fine With You - 1

Polesan make up tipis membingkai wajah cantik Gita, hari ini adalah hari senin, itu artinya ia di kantor akan sangat sibuk. Di umur yang masih terbilang muda, yaitu 21 tahun Gita berhasil menamatkan Pendidikan S1 Psikologi dengan predikat cumlaude di salahsatu universitas swasta di Jakarta. 2 tahun lalu saat menjadi freshgarduate bagi Gita salah satu ujian yang berat, tidak ada pengalaman magang saat kuliah membuatnya sulit untuk beradaptasi di dunia kerja, tapi hal itu sudah mampu ia lewati beberapa bulan yang lalu, sekarang Gita sudah 23 tahun dan siap dalam dunia kerja.

Bekerja sebagai HRD di Hotel Dawson milik ayahnya Bian membuat Gita harus ekstra rajin dan yang terpenting harus ekstra menjaga nama baik keluarga Bian yang baginya sudah sangat membantunya selama mereka berpacaran, bahkan sebelum itu Bian sudah menjadi bagian dari diri Gita.

Selesai memakai blazer, Gita menyambar ponselnya yang berdering.

“Hallo Git” Suara laki-laki yang sangat Gita cintai terdengar disebrang sana.

“Hallo Bi, bentar lagi aku tu-“ suara Gita terhenti kala lelaki disebrang sana mengintrupsinya “Git, aku gak bisa jemput kamu, mendadak harus gantiin papa rapat di Bandung” Gita mendengarnya hanya tersenyum “Iya bii, gapapa kok” jawab Gita.

Wajar saja jika Bian akan bolak balik Jakarta-Bandung karna Hotel Dawson pertama milik keluarganya itu ada di Bandung, dan hotel yang menjadi tempat bekerja Gita ini baru berjalan sekitar 7 tahun dan Bian menjadi General Manager selama 2,5 tahun terakhir di umurnya 26 tahun, setelah ia menyelesaikan S2 Managemen. Bahkan dalam waktu dekat Hotel Dawson milik keluarga Bian akan diresmikan di Kalimantan.

“Aku udah suruh pak Hasan jemput kamu” suara Bian terdengar tegas, mungkin Bian tau kalua Gita pasti akan menolaknya dengan alasan pak Hasan itu kan supir kamu, masa suruh jemput aku sih.

“Iya Bi, kamu hati-hati yaa”

“Hmm, byee” Bian langsung mematikan telponnya bahkan sebelum Gita membalas ucapannya. Gita tersenyum geli melihat kelakuan Bian yang memang tidak pernah berubah dari dulu, dingin dan cuek.

Melirik foto anak kembar dimeja samping tempat tidur, Gita hanya tersenyum “Miss you so bad, Gem”

-----------

Berkutat dengan data kinerja karyawan yang harus dipindahkan ke Hotel Dawson yang baru di Kalimantan, Gita sudah melewatkan 1 jam istirahat makan siangnya.

Biasanya Aura dan Dita yang merecokinya untuk sekedar makan siang di restaurant hotel, tapi hari ini Aura harus izin dulu tidak bisa makan siang Bersama karna harus menggantikan dokter seniornya jaga. Iya, Aura adalah seorang dokter internship di salahsatu rumah sakit yang ada di Jakarta. Berbeda dengan Aura yang sibuk bekerja, Dita sibuk menjadi calon pengantin yang hari ini jadwal ia dan Aldi, calon suaminya harus melakukan fitting baju pengantin.

Meregangkan badannya yang pegal, Gita berencana untuk makan di restaurant hotel. Membersihkan mejanya dari tumpukan catatan nama-nama karyawan, dan memasukkan ponsel dan dompetnya serta memoleskan sedikit lipstick di bibir pucatnya. Namun, aktivitas mempercantik diri itu terhenti kala ketukan pintu menginstrupsinya.

“Masuk” ucap Gita.

“Permisi bu, ini ada pesanan makanan untuk bu Gita dari pak Bian” ucap cleaning servis andalan Bian untuk melakukan sogokan saat mereka bermasalah atau seperti hari ini, ketika Bian tidak bia mengajaknya makan Bersama.

“Ohh iya, makasih pak”

Sepeninggalan cleaning servis itu, Gita langsung menghubungi Bian. 

Hanya berdering, tidak ada jawaban.

---------------

Selama 2 hari di Bandung, Bian sangat merindukan Jakarta, tidak- bukan Jakarta, tapi pacarnya, Gita. Bersama Gita, Bian menjadi seorang kekasih yang dapat diandalkan dalam segala hal. Pintar, tampan, dan kaya seolah menjadi nilai lebih dimiliki oleh Bian. Banyak perempuan diluar sana yang berharap bisa menjadi pasangan dari anak pemilik Hotel Dawson itu, tapi siapa sangka yang bisa bersanding dengan Bian justru Gita, seorang anak yatim piatu yang hidup dari warisan keluarganya.

Sebelum pulang ke Jakarta, Bian sempat bertemu dengan Rey, temannya sejak masih kanak-kanak. Wajar saja jika Bian hanya mempunyai Rey sebagai teman akrabnya, karna Bian tidak mudah percaya dan sulit untuk membangun hubungan baik dengan oranglain, beda halnya dalam dunia pekerjaan, Bian sangat terkenal dalam meluluhkan hati para klien yang akan bekerjasama dengan Hotel Dawson tersebut.

“Rey ada?” tanya Bian pada sekretarisnya Rey yang saat ini terlihat ketar ketir, Bian sudah menduga hal apa yang dilihatnya saat membuka pintu besar yang ada didepannya saat ini.

“A-ada pak. Tap-“ suara sekretarisnya Rey diindahkan begitu saja.

Benar saja, ketika pintu terbuka, Rey sudah hampir menanggalkan dress hitam milik gadis yang sedang berciuman panas dengannya saat ini.

“Bangsat” umpat Rey. “Gue gak ngerti kenapa lo malah mempekerjakan skretaris laki-laki daripada perempuan, padahal lo bisa menggunakannya setiap saat kalo dia jadi sekretaris lo” ucap Bian seraya berduduk santai di sofa.

Menyelesaikan urusannya dengan perempuan itu dan membiarkan perempuan itu pergi dengan kecupan singkat di bibir, Rey menyusul Bian duduk.

“Lo ngapain sih? Ganggu mulu” ucap Rey kesal “Lo siang gini bisa horni juga?” Bukannya menjawab pertanyaan Rey, Bian malah menanyakan hal yang sangat dibenci oleh Rey.

“Kurang ajar, itu namanya kebutuhan. Emang kaya lo, pacaran aja lama, unboxing kaga” mendengan ucapan Rey, Bian langsung mengumpat dan melemparkan bantal sofa kearah laki-laki itu. “Eh tapi serius Bi, lo berapa tahun sih pacaran? Perasaan dari kita kuliah S1 deh?”

“lima” jawab Bian singkat “Gue gak yakin deh lo berdua cuma tidur doang di apartnya Gita” ujar Rey “Penting banget sih lo ngurusin ubungan gue, urusin otak lo tuh isinya selangkangan doang” ujar Bian kesal, rencananya ia kesini untuk mengeluhkan pada Rey kalau ibunya sudah menanyakan kapan ia siap untuk menikahi Gita.

“Jadi bener? Lo gak pernah tidur ama Gita?” tanya Rey memastikan. Tidak ada jawaban dari Bian. “Kasih gue deh, mayan kan gue dapet perawan” ucapan Rey tersebut langsung mendapatkan tendangan ringan di tulang kering Rey “Anjing lo!!!” umpatnya.

“Gak guna gue kesini” ujar Bian kesal “Ututu cini cini ayang Bian mau cerita apa?” Rey menirukan gaya perempuan untuk menggoda Bian, dan hanya mendapat dengusan kasar dari Bian.

“Nyonya besar udah mulai nanya kapan gue nikahin Gita” ucap Bian. Hal tersebut tentu saja mendapatkan gelak tawa dari Rey “Gue yakin sih besok juga bakal lu dinikahin secara sepihak oleh Nyonya Lusi” ujar Rey disela tawanya “Bangsat, gue serius anjing” saat ini Bian ingin sekali menyumpal mulut sampah Rey dengan sepatunya.

“Oke oke” akhirnya Rey mengalah, “terus apa masalahnya sii? Lo juga udah lima tahun kan pacaran?”

“Gue gak cinta Gita, Rey”

“Selama lima tahun lo gak ngerasain apa-apa?”

Hanya mendapat gelengan ringan dari Bian, Rey langsung tersadar.

“Lo masih ngarepin dia?” tanya Rey dan langsung mendapat tatapan gusar dari Bian.

----------

Hari ini Gita senang sekali karena Bian mengajaknya untuk makan malam Bersama keluarganya, memang hal ini sering terjadi namun beda rasanya ketika ibunya Bian menelponnya untuk bersiap karena ada hal special.

“Iya tante, nanti Gita bisa kok jaga rahasia” kekeh Gita, ketika ibu Bian mengatakan kalau ia tidak sabar untuk melihat si Bian kaku itu melamar Gita.

“Pokoknya kamu harus kaget ya Git. Aduhh tante malah jadi spoiler nihhh, soalnya gak sabar banget liat si Bian itu gugup hahaha” gelak tawa sang calon mertua terdengar ditelainga Gita

“Iya tante” Gita hanya menjawab seadanya. Memang Gita tidak terlalu banyak berbicara, ia lebih sering tersenyum dan menjawab iya atau mengangguk, sama-sama pendiam tetapi Gita tidak se kaku dan se galak Bian.

----------

Duduk di meja besar Bersama keluarga Bian, ada ayah dan ibu Bian yang baru saja datang serta Dinda, adik perempuan Bian yang saat ini sedang sibuk dengan ocehannya bercerita pada Gita kalau banyak yang mengajaknya berpacaran, siapa yang tidak tergoda dengan kecantikan Dinda, bahkan anak dari mentri pun ada yang mendekatinya. Gita hanya menanggapi ocehan Dinda dengan senyum dan sesekali menanggapinya dengan pertanyaan kembali.

30 menit berlalu, Bian belum juga menampakkan dirinya, membuat semua yang ada di ruangan tersebut gusar. Ayahnya sudah berkali-kali menelponnya, belum ada jawaban. Ibunya sudah mengomel sejak 10 menit lalu pun hampir saja mengumpat yang tidak-tidak pada anak lelakinya itu, sama halnya dengan Dinda, yang sedari tadi tidak berhenti merutuk kakanya.

“Kemana sih si Bian itu!” ucap Dinda yang sudah menanggalkan embel-embel ka lagi, dan sukses mendapatkan tatapan dan teguran tajam dari ayahnya “Dinda!”

“Lagian sih bang Bian ngajak makan malam, tapi dianya telat” ujar Dinda membela Diri.

“Tau tuh abangmu, dia yang ngerencanain, dia juga yang telat” tambah ibunya “Gita, kamu gapapa kan?” tanya ibu Bian ketika melihat Gita yang sudah pucat.

“Gapapa tante, mungkin mas Biannya lagi dijalan” ucap Dinda dengan senyum manisnya, walaupun sekarang tangan yang ia sembunyikan dibawah meja sudah bergetar.

“Bian!” ucap ayahnya, membuat semua yang ada disana memandang ayah Bian dengan penuh tanya “Kamu dimana?” tanya ayahnya

“Hm cepat datang, kami tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, Gita terlihat pucat”

“….”

“Cepatlah” ucap ayah Bian seraya menutup telponnya

“Bian dimana?” tanya ibunya cepat “dijalan, tadi lagi ada rapat katanya” ucap ayahnya singkat.

“Ka Gita?” panggil Dinda yang saat ini melihat Gita sedang mengumpulkan kesadarannya agar tidak pingsan.

“Hm? Om- tante- Dinda, Gita ke toilet sebentar ya” izinnya, “Kamu gapapa Git?” tanya ibu Bian memastikan, hanya mendapat anggukan kecil dari Gita.

Baru saja beberapa langkah Gita meninggalkan meja itu, tidak dapat menahan sakit kepalanya lagi akhirnya pingsan.

Brukkk

“Gita!!!” Bian yang baru saja datang langsung berlari menghampiri gadisnya itu.

“Astaga Gita!” Ibu Bian langsung panik dan satu keluarga itu pun terlihat gusar saat melihat Gita sudah pingsan.

Bian langsung menggendong Gita ala bridal style, dan berucap “Yah, aku bawa Gitake rumah sakit” ujarnya tanpa mendengar jawaban apa yang dikatakan ayahnya, fokusnya hanya satu, Gita.

---------

Gita mengerjapkan matanya, menyesuikan matanya dengan cahaya sekitar. Ruangan serba putih menyambut Gita dan disampingnya sudah ada laki-laki yang sangat dicintainya tertidur. Senyum Gita mengembang kala melihat laki-laki yang disampingnya ini mendekap erat tangannya, hangat.

“Bian…” panggil Gita lembut

Laki-laki itu terbangun dari tidurnya seraya meregangkan badannya yang pegal “Kamu udah sadar? Ada yang sakit?” tanyanya, hanya mendapatkan gelengan kecil dari Gita.

“Ck, kamu tuh ya udah tau magh masih aja telat makan!” ucap Bian yang sekarang sudah berjalan mengambilkan minum untuk Gita “emang gak ada makanan di apart sampe mau nahan laper buat makan malam sama keluargaku?” tanyanya sarkas sambil membantu Gita untuk duduk bersandar dan membantunya minum “harusnya kamu makan dulu sebelum berangkat!” ucapnya final.

Gita hanya terkekeh melihat apa yang dilakukan dan dibicarakan Bian. Bian multitasking  memang, sambil mengomel dia masih saja bisa membantu Gita.

“Maaf Bii” ucap Gita sambil menahan senyumnya.

“Kapan sih Git, kamu tuh ngedengerin aku” keluhnya “Jangan kecapean, jangan telat makan, itu doang kok susah banget”

Gita senang melihat Bian yang mengomel saat ini, karna kalau bukan seperti saat ini, mana mungkin Bian mau berbicara Panjang lebar dengan Gita.

“Kamu tuh Gita lagi sakit malah diomelin” ujar ibu Bian yang kini sudah berada diambang pintu ruang inap Gita “Git, kamu malam ini disini dulu ya, besok baru pulang”

Magh kamu kambuh” ujar Bian ketika melihat Gita sedang inginmenanyakan keadaannya “Makanya jangan telat makan”

“Ka Gita telat makan kan karna ka Bian juga telat datang”  ucap Dinda yang sekarang sibuk dengan ponselnya, mendengar ucapan Dinda, Bian hanya mendengus sebal, malas sekali meladeni adiknya yang hasil copas dari ibunya itu, sama-sama cerewet.

Tidak lama kemudian ayahnya Bian masuk “Gimana keadaan kamu Git?”

“Baik om” balas Gita. Ayah Bian hanya mengangguk dan memandang Bian dengan tatapan sulit dibaca “Ikut papa”

Bian mengikuti langkah lebar ayahnya, sekarang mereka sudah di Lorong rumah sakit yang sepi.

“Kemana kamu sampai telat? Ayah tanya sekretaris kamu, tidak ada jadwal rapat apapun hari ini, apalagi diluar hari kerja”

Tidak ada jawaban apapun dari Bian.

“Kamu mengunjunginya?” tebak ayahnya dan mendapat anggukan singkat dari Bian. Helaan nafas gusar membuat Bian memandang ayahnya dengan lekat.

“Bian gak bisa ninggalin dia gitu aja yah”

“Ayah gak minta kamu meninggalkan dia, Bian!” ucap ayahnya tegas “kalo kamu begini terus bagaimana dengan Gita?”

“Yah, ini juga demi Gita yah” Bian membela diri, dan langsung mendapat tatapan tajam dari ayahnya “Ayah cuma minta kamu mengerti Gita, Bian! Hampir 6 tahun kalian Bersama, apakah kamu tidak bisa melepas perempuan itu?” tanya ayahnya

“Yah, Bian cinta sama dia yah, dan Gita-“ belum selesai Bian berbicara, ayahnya langsung bertanya “Bisakah kamu mencintai Gita sama seperti kamu mencintai dia, Bian?”

“Gita bukan yang aku inginkan yah” ujarnya putus asa

“Lalu kenapa kamu mengajaknya untuk Bersama?”

“Karna janji yah”

Wattpad I'll be Fine With You

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Lalu

Pasangan Sempurna

Spasi hati